Selasa, 24 Maret 2009

MAULID, DULU DAN SEKARANG

Salah satu versi sejarah mengatakan, bahwa perayaan Maulid dimulai pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dari dinasti Mamalik. Dirayakannya Maulid pada saat itu untuk membangkitkan moral dan semangat pasukan Islam menghadapai gemburan tentara Kristen dalam perang Salib.

Pada jaman Tabi'in, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dari dinasti Mamalik, terjadilah perang besar antara Umat Islam dan Kristen. Umat Islam menyebutnya sebagai Perang Sabil, sedangkan Umat Kristen menyebutnya dengan perang Salib. Perang Sabil/Salib ini berlangung beberapa kali, dengan kemenangan silih berganti dari kedua belah pihak.
Dikisahkan, bahwa dalam salah satu babak peperangan, tentara Salib (Kristen) minta agar diadakan genjatan senjata. Alasannya, mereka akan merayakan hari kelahiran nabinya (Nabi Isa) yang dikenal dengan perayaan Natal. Permintaan ini dikabulkan oleh tentara Islam yang dipimpim oleh Salahuddin Al-Ayyubi. Maka sejak kesepakatan genjatan senjata itu, pihak Kristenpun merayakan Natal dengan tenang dan khidmat tanpa gangguan sedikitpun.
Usai merayakan Natal, peperanganpun dilanjutkan kembali. Kali ini malah lebih seru. Tentara Islam saat itu agak heran melihat betapa berkobar-kobarnya semangat perang Tentara Kristen. Tak pernah mereka lihat semangat tentara Salib se-berkobar itu sebelumya. Selidik punya selidik, ternyata menyala-nyalanya semangat tentara Salib tersebut disebabkan oleh karena mereka telah memperingati hari kelahiran nabinya (Natal).
Untuk menandingi hal itu, Sultan Salahuddin Al-Ayyubipun tak mau kalah. Dicarinya akal bagaimana cara agar semangat Tentara Islam bisa berkobar pula. Ia berfikir, jika Tentara Kristen dapat berkobar semangatnya karena telah merayakan hari kelahiran nabinya, maka semangat Tentara Islampun harus dikobarkan pula dengan cara yang sama. Caranya tentu dengan memperingati hari kelahiran nabinya, Nabi Muhammad SAW. Maka sejak saat itulah dirayakan peringatan Hari Kelahiran nabi Muhammad SAW yang kini kita kenal dengan MAULID.
Kisah tersebut adalah salah satu versi sejarah tentang asal muasal peringatan Maulid Nabi SAW. Versi lain mengatakan, bahwa peringatan Maulid Nabi SAW juga dimulai pada jaman Salahuddin Al-Ayyubi, namun bukan karena hal ikhwal perang salib. Maulid dilakukan karena saat itu Sultan Salahuddin melihat bahwa sebagian besar Umat Islam telah mulai pudar ke-islamannya karena tidak lagi berpegang teguh pada ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW. Yang menjadi pegangan sebagian besar Umat Islam ialah paham-paham, atau berbagai macam 'isme-isme' yang justru jauh melenceng dari Al-qur'an dan Sunnah Nabi. Oleh karena itulah maka Salahuddin Al-Ayyubi mulai mengadakan peringatan Maulid Nabi SAW dengan tujuan agar Umat Islam kembali berpegang teguh pada ajaran-ajaran Muhammad SAW.
Versi manapun yang benar dari kedua cerita tersebut, yang jelas, awal mula adanya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah pada jaman Tabi'in, bukan pada jaman Khulafaurrasyidin dan bukan pula pada jaman Nabi SAW masih hidup. Atau dengan kata lain bahwa perayaan maulid tidak disunnahkan apalagi diwajibkan. Kalaupun ada sebagian ulama menunjukkan tentang adanya hadist anjuran untuk merayakan maulid ini, namun sebagaian ulama pula mengatakan bahwa hadist tersebut sifatnya mawdu (hadist buatan).
Sejarah tentang asal muasal perayaan maulid ini perlu diketengahkan untuk meluruskan pemahaman sebagian Umat Islam Indonesia tentang perayaan Maulid. Sebab masih banyak Umat Islam yang menganggap bahwa merayakan maulid adalah wajib atau setidak-tidaknya sunnat. Akibatnya mereka tak segan-segan mengeluarkan harta bendanya untuk merayakan maulid dengan semeriah-meriahnya. Bahkan bisa dikatakan maulid kini telah menjadi semacam gengsi sosial.
Cara peringatan maulid yang kita lihat di 'tanah air' memang jauh berbeda dengan cara peringatan maulid di 'tanah pasir' (Timur Tengah). Di Timur Tengah, perayaan Maulid dilaksanakan dengan cara melakukan diskusi agama, pengajian akbar, banyak membaca shalawat, zikir dan berbagai kegiatan Islami lainnya.
Demikian pula dengan para sahabat Nabi SAW dahulunya. Meskipun mereka tidak pernah merayakan maulid nabi secara seremonial setahun sekali, tapi pada hakekatnya mereka telah melaksanakan maulid yang sebenarnya. Cara mereka maulid yaitu dengan menjalankan sunnah-sunnah Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Cara ini jauh lebih baik dari pada cara seperti sekarang, di mana setiap tahun kita merayakan maulid secara besar-besaran namun dalam kesehariannya kita jarang mengikuti cara-cara nabi.

Maulid di Pulau Lombok
Di Pulau Lombok, bila Bulan Maulid tiba, maka mulailah masyarakat dari berbagai tingkat ekonomi mempersiapkan segala sesuatunya. Terutama sekali persiapan biaya untuk membeli makanan dan minuman, karena memang 'inti' perayaan maulid di Pulau Lombok adalah makan-makan. Karena hal itulah maka pada akhirnya Maulid-pun identik dengan makan-makan. Biaya yang dikeluarkan masyarakat umumnya relatif cukup besar bila dilihat dari kondisi ekonominya sehari-hari. Namun demikian, biaya yang cukup besar tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka, meskipun harus mereka cari dengan cara hutang-sana sini.
Tak jarang, selain harus mempersiapkan biaya untuk menjamu para tamu pribadinya, masyarakat dengan terpaksa (kadang dengan kesadaran sendiri) 'membebankan diri' dengan berbagai biaya untuk mengadakan berbagai bentuk hiburan di tempatnya. Umumnya hiburan yang biasa ditanggap ialah hiburan wayang, dangdut, kecimol dan sebagainya. Hiburan-hiburan semacam ini selain mubazir, juga mudharatnya lebih banyak dari pada manfaatnya. Biasanya, pada event hiburan tersebut terjadi bermacam bentuk maksiat seperti perzinahan, mabuk-mabukan dan perkelahian. Cara-cara ini jelas-jelas sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam dan tujuan perayaan maulid yang sebenarnya. Padahal salah satu peristiwa besar yang dirayakan dalam peringatan maulid adalah Hari Wafatnya Rasulullah. Hari Duka Cita Umat Islam.
Ironis memang. Tapi herannya, para tuan guru jarang sekali mengungkap masalah 'kesalahan' cara maulid ini, sehingga kesalahan inipun terus terjadi dan malah makin lestari. Ada yang menduga, para tuan guru enggan mengkritik cara tersebut karena khawatir tak diundang maulid lagi, karena memang even maulid tersebut adalah 'lahan' bagi mereka.
Dan satu hal yang paling kita sayangkan yaitu keberanian masyarakat untuk mengorbankan hartanya justru pada hal-hal yang tidak diwajibkan agama seperti maulid ini. Sementara dalam hal keberanian berkorban harta untuk kepentingan pendidikan, seperti menyekolahkan anak, ataupun membantu membangun sarana pendidikan, sangatlah kecil. Jadi, tak mengherankan jika akhirnya SDM masyarakat kita di Pulau Seribu Masjid ini jauh tertinggal dari daerah-daerah lainnya. Andaikata keberanian masyarakat Lombok berkorban harta untuk maulid sama dengan keberanian berkorban harta dalam menuntut ilmu, barangkali peringkat SDM kita tak akan menyedihkan. Kita tak akan menjadi nomor 'BENGKIS' seperti saat ini. Wallahua'lam
Read More......

MAULUD-MULUD-MELUD

Jangan salah sangka ! Rangkaian judul di atas bukan merupakan motto daerah manapun. Rangkaian kata tersebut bukan pula untuk menyaingi motto Lombok Barat; Patut Patuh Patju. Maulud-Mulud-Melud adalah suatu rangkaian kata di mana antara kata pertama dengan selanjutnya punya hubungan sebab akibat. Ingin tahu lebih jelas? Baca saja ulasan selanjutnya.

Jangan salah sangka ! Rangkaian judul di atas bukan merupakan motto daerah manapun. Rangkaian kata tersebut bukan pula untuk menyaingi motto Lombok Barat; Patut Patuh Patju. Maulud-Mulud-Melud adalah suatu rangkaian kata di mana antara kata pertama dengan selanjutnya punya hubungan sebab akibat. Ingin tahu lebih jelas? Baca saja ulasan selanjutnya.
Sebagian orang banyak yang menyebut maulid dengan ucapan maulud. Dan dalam tulisan ini saya lebih sreg menggunakan kata Maulud saja. Bukan apa-apa, tapi semata-mata agar judul di atas jadi punya nilai estetika.
Maulud artinya kelahiran. Maulud Nabi berarti kelahiran Nabi. Sedangkan “Mulud” adalah bahasa Sasak dari Maulud. Jadi, kalau ada orang yang berkata akan pergi Mulud, berarti ia akan pergi menghadiri kondangan maulud. Oleh sebagian orang, “Mulud” kemudian diplesetkan menjadi “Mulut”. Kedua kata tersebut kalau diucapkan kedengarannya hampir sama. Diplesetkannya kata “Mulud” menjadi “Mulut” adalah dikarenakan sebab tertentu.
Saat ini bukan rahasia lagi bahwa terdapat korelasi antara “Mulud” dengan “Mulut”. Kalau sudah mendengar kata Mulud, maka biasanya yang pertama terbersit dalam benak kita adalah makanan. Memang, dewasa ini “Mulud” identik dengan makan-makan. Walau mungkin ada juga unsur silaturrahmi dan siraman rohaninya, tapi itu tidak banyak. Sebagian besar orang pergi “Mulud” hanya untuk makan-makan. Demikian pula dengan para pengundang Mulud, begitu tamu datang, yang langsung dikeluarkan adalah makanan. Si tamu makan, setelah itu basa-basi sedikit, lalu pergi. Istilah teman saya, setelah makan-pergi (SMP). Atau kalau di-Sasakkan menjadi SOHDI, Besoh-Nyedi.
Pendeknya. Mulud akhirnya benar-benar “sah” diidentikkan dengan makan-makan. Dan tentu saja kalau dalam hal makan-makan, yang paling pertama merasakan nikmatnya makanan adalah mulut. Itu sebabnya Mulud sering diplesetkan menjadi Mulut.
Lalu bagaimana dengan Melud ?
Di sebagian tempat Melud bisa berarti ‘agak kurang waras’. Tapi di tempat saya Melud berarti malas, ogah dan sebangsanya. Oleh karenanya mohon maaf bila kata Melud saya tafsirkan menurut bahasa di tempat saya.
Diletakkannya kata “Melud” di akhir rangkaian “Motto” Maulud-Mulud-Melud punya makna tersendiri. Sebagaimana dimaklumi, “Bulan Mulud” berlangsung selama sebulan. Tiap hari pasti ada saja kampung yang Mulud. Dan dalam satu hari, undangan kadang di sana-sini, yang tentunya makan pun di sana-sini juga. Akibatnya perut jadi kekenyangan. Kalau sudah kekenyangan, yakinlah, kantuk ‘kan datang, malas menjelang dan semangat ‘kan hilang. Nah, ini yang dinamakan “Melud”. Jadi, klop-lah sudah “Maulud-Mulud-Melud”.
Sebenarnya, dalam Islam tidak ada anjuran untuk adakan Mulud. Nabi sendiri tidak pernah merayakan HUT-nya itu. Begitu pula para sahabat Nabi lainnya. Maulud dimulai pada jaman Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Kala itu beliau mengadakan Maulud dengan maksud untuk meningkatkan moral dan semangat pasukan Islam. Pasukan Islam pada waktu itu sedang menghadapi gempuran pasukan Kristen dalam Perang Salib.
Maulud yang dilaksanakan Sultan dan pasukannya saat itu tidak dengan cara memperbanyak makan-makan. Mereka merayakan maulud dengan cara banyak membaca shalawat nabi dan menjalankan sunnah Nabi lainnya. Dan akhirnya kemenangan pun tercapai.
Coba bandingkan dengan maulud kita sekarang. Hanya beberapa persen saja yang maulud mengikuti cara Sultan Al-Ayyubi tersebut. Selebihnya, kita lebih menitikberatkan pada aspek makan-makannya. Dan konsekwensi dari maulud yang menitikberatkan pada aspek makan-makan itu, maka badan jadi berat, otak jadi berat dan kelopak mata pun jadi berat juga. Tapi untung saja kita tidak sedang perang. Kalau saja dalam kondisi perang, nampaknya musuh takkan sulit membantai kita. Ya, karena saat musuh menyerang, kita lagi terkantuk-kantuk kekenyangan sehabis “Mulud”.
Saat ini banyak orang yang sudah menyadari akan “kekurangtepatan” cara pelaksanaan Mulud tersebut. Namun karena tradisi ini sudah mendarahdaging, akhirnya orang merasa terpaksa untuk menjalankannya. Malah di sebagian tempat bila seseorang tidak melaksanakan mulud, bisa dianggap aib. Bisa-bisa namanya bakal digunjing sana-sini.
Sebenarnya, tidak ada paksaan dalam melaksanakan Maulud. Kalau tidak dilaksanakan, tidak berdosa. Kalau pun toh, dilaksakan, belum tentu dapat pahala. Untuk itu bagi yang ekonominya pas-pasan atau keuangan keluarga rada-rada mengkhawatirkan, sebaiknya tidak usah Mulud. Cukup baca shalawat ekstra banyak di bulan itu, dan jalankan semua sunnah Nabi, itulah Mulud yang sebenarnya. Sedangkan uang yang ada, pemakaiannya diprioritaskan untuk hal-hal yang lebih penting, terutama untuk sekolah anak.
“Maunya sih, begitu. Tapi ‘kan tidak enak sama keluarga di kampung sebelah. Lha, kemarin mereka ‘mulud’ ngundang kita, sekarang kampung kita ‘mulud’ tidak ngundang mereka, ‘kan malu,” ujar seorang teman kepada saya dengan nada polos.
Ternyata salah satu masalahnya terletak di situ, yakni faktor saling undang-mengundang karib kerabat antar kampung. Jaga gengsi. Karena faktor jaga gengsi itu pula seseorang sering memaksakan diri untuk Mulud di rumahnya, meski dengan cara hutang sana-sini.
Kalau itu masalahnya, solusinya gampang ! Adakan Mulud serentak. Semua desa di-Mulud-kan pada hari dan tanggal yang sama. Praktis, tak ada lagi yang akan mereka undang, karena karib kerabatnya di kampung sebelah juga sedang Mulud. Karena kekurangan tamu, biasanya akhirnya mereka kumpulkan diri di mesjid, bikin acara. Ini tentu lebih bermanfaat daripada terima tamu sendiri-sendiri di rumah tanpa ada acara ritualnya.
Mulud model begini memang sekali-dua kali terasa tidak enak, karena Mulud jadi sepi, tidak seperti biasanya. Tapi lama kelamaan ‘kan biasa juga, sehingga tentunya biaya Mulud bisa ditekan. Dalam hal ini tentu butuh peran dari para kaum terpelajar, orang berpengaruh dan “penguasa sipil” untuk mengajak masyarakat agar mensederhanakan cara Mulud yang jor-joran. Apalagi saat ini kita lagi krisis ekonomi “abadi nan jaya”. Semoga di masa depan angan-angan ini bisa jadi kenyataan.
Dan karena saat ini cara perayaan “Mulud” masih seperti sediakala, maka dengan membaca Bismillaahirrohmaanirrohiim, saya ucapkan selamat : Maulud – Mulud – Melud. Wallahua’lam.
Read More......

MAULID BULAN PENUH GIZI

Kalau ada istilah : ramadhan, bulan penuh barakah, kini ada lagi yang baru : maulid, bulan penuh gizi. Kalau bulan ramadhan memang memang dihadirkan penuh keberkahan oleh Allah, tapi bulan mauled memang disengaja oleh sebagian umat Islam untuk dihadirkan penuh gizi.

Kalau ada istilah : ramadhan, bulan penuh barakah, kini ada lagi yang baru : maulid, bulan penuh gizi. Kalau bulan ramadhan memang memang dihadirkan penuh keberkahan oleh Allah, tapi bulan mauled memang disengaja oleh sebagian umat Islam untuk dihadirkan penuh gizi.
Sebelum masuk ke “materi” bulan penuh gizi, tak ada salahnya saya uraikan sedikit mengenai kepercayaan sebagian besar masyarakat kita terhadap baik-buruknya tiap-tiap bulan.
Dalam kepercayaan sebagian umat Islam, ada istilah bulan baik dan kurang baik. Pada bulan-bulan baik, orang ramai-ramai melakukan berbagai cara. Misalnya, padabulan haji (Zulhijjah), dianggap sebagai bulan baik untuk kawin. Makanya pada bulan itu undangan akad nikah pun berdatangan dari sana-sini.
Sementara bulan lainnya seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Syawal dan Dzulqaidah dianggap kurang baik. Makanya jarang orang mau adakan hajatan di bulan-bulan ini, apalagi kawin. Kalaupun ada yang kawin, pasti orang bakal was-was dengan “hari depan” perkawinannya.
Konon kawin di bulan Muharram, bulan panas, akibatnya sering ribut. Bulan Safar, bisa banyak utang. Rabiul Akhir, sering cekcok. Jumadil Awal, bakal rugi melulu. Kawin di bulan puasa, panas juga, bisa sering saling benci. Bulan Syawal, banyak utang. Dzulqoidah, penyakitan. Jadi yang bagus Cuma di bulan Zulhijjah (haji), Sya’ban dan Jumadil Akhir, selebihnya jelek.
Khusus bulan Muharram, oleh sebagian umat Islam primitif dianggap bulan “paling panas”. Kalau kawin di bulan ini bakal sering cekcok. Konon, di bulan ini sering terjadi kecelakaan. Tak heran bila kemudian orang pada berhati-hati naik motor. Yang suka ugal-ugalan di jalan, mendadak menjadi pengendara yang sopan. Bahkan yang jarang memakai helm pun tiba-tiba mengikat helmnya erat-erat. Hampir-hampir pakai sepeda ontel pun mesti berhelm.
Sedangkan untuk bulan mauled sendiri dimasukkan dalam deretan bulan top. Bulan mauled digolongkan sebagai “bulan baik”. Itu sebabnya sederet acara hajatan segera saja dilangsungkan begitu perayaan maulid tiba. Contohnya, sunatan, cukuran anak dan khataman qur’an.
Bagi yang mau sunatan/khitanan, bulan maulidlah yang dirasa paling afdhol. Entah apa pertimbangannya, saya tidak tahu. Padahal, antara khitan di bulan maulid dengan bulan yang lainnya sama saja, tidak berpengaruh pada cepat lambatnya kesembuhan luka bekas khitan. Begitu pula cukuran pertama bagi si bayi, dirasa lebih sreg di bulan Maulid. Makanya banyak orang tua yang bela-belain nunggu sampai Maulid dulu baru cukur rambut bayinya. Padahal Maulid masih 10 bulan lagi. Akibatnya, begitu Maulid tiba, rambut si bayi sudah gondrong.
Yang mau khataman qur’an pun demikian juga. Rasanya kurang pas bila ngadain acara khataman pada bulan safar, Sa’ban atau pun Jumadil Akhir. Cocoknya, ya, di bulan Maulid. Hal ini bisa jadi terkait dengan keramaian di bulan Maulid. Di saat ramainya perayaan Maulid, tentu paling pas untuk melakukan deklarasi telah khatamnya si fulan ngaji qur’an.
Dalam merayakan acara-acara tersebut sudah pasti include dengan makan-makan. Tanpa makan-makan, acara Maulid perlu dipertanyakan keabsahannya. Padahal kalau tanpa zikir, orang tidak pernah mempersalahkannya. Dengan hanya makan-makan walau tanpa zikir, maulid dirasa sah dan sukses. Tapi zikir juga tanpa makan-makan, wah, bisa gawat. Para tamu bisa-bisa menganggap ini sebuah cobaan dari Tuhan” yang perlu disikapi dengan sabar. Ya, bersabarlah, dan setelah itu ; jangan harap mau datang lagi ketempat tersebut.
Begitulah maulid ala Lombok. Aspek makan-makan masih menduduki peringkat pertama. Sedangkan silaturahmi dan siraman rohani menduduki peringkat berikutnya. Karena makan-makan diutamakan, maka usai aulid perutlah yang makin gemuk, bukannya otak. (Kalau perut makin gemuk,otak biasanya makin “kurus”. Sebaliknya kalau otak “gemuk”, perut dan badan biasanya jadi kurus).
Karena Maulid sudah identik dengan makan-makan, maka banyak orang bilang Maulid adalah bulan penuh gizi. Makan di tempat perayaan Maulid bukan sekedar makan biasa, tapi luar biasa. Baik makanan beserta lauk pauknya, buah beserta jajannya, benar-benar spesial. Maka wajarlah orang memamfaatkan moment Maulid tersebut sebagai ajang perbaikan gizi.
Barangkali itu sebabnya pada bulan Maulid banyak aktifitas jadi tak berjalan. Pada pegawai di kantoran sibuk mempersiapkan rencana menghadiri undangan Maulid tiap harinya. Saat ada undangan Maulid, mereka rame-rame ninggalkan kerjaan di kantor demi “makan gratis”. Ini yang dijuluki Romantis (rombongan makan gratis). Anak sekolah pun kadang kerap tak masuk karena menghadapi Maulid, begitu pula gurunya. Bahkan tuan guru pun ada yang menutup pengajiannya selama bulan Maulid. Alasannya, karena banyak undangan Maulid yang mesti dihadiri.
Sungguh mengherankan, kenapa orang begitu getol hadiri acara Maulid, padahal di rumah makanan tersedia juga. Namun bila kita kaitkan dengan peningkatan gizi tersebut barangkali ada benarnya. Bayangkan makanan yang disediakan tuan rumah untuk tamu benar-benar melebihi standar rata-rata orang kebanyakan. Empat sehat, lima sempurna, enam kekenyangan.
Mungkin ini nantinya bisa dijadikan indicator tinggi-rendahnya konsumsi gizi masyarakat kita. Makin getol menghadari makan-makan Maulid, berarti gizi masih rendah. Tapi bila jumlah “romantis” nantinya makin berkurang, maka Dinas Pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan patut bergembira. Sebab ada kemungkinan gizi masyarakat memang sudah meningkat.
Yang lebih lucu lagi adalah prilaku masyarakat dalam hal pemberian makanan bergizi ini. Meski sehar-hari hidup kekurangan, tapi saat Maulid mendadak berada. Tamu betul-betul dibkin puas dan kenyang dengan makanan lezat. Dulang Maulid bisa berisi 50-an piringjajan beraneka rupa dan bentuk, dari yang bulat, lonjong, bulat lonjong, persegi panjang, segitiga samakaki, jajaran genjang, kubus, kerucut hingga bentuknya tak ditemukan namanya dalam buku matematika. Yang jelas, begitulah royalnya masyarakat kita kepada tamu.
Seorang khatib jum’at pernah mengungkapkan keprihatinannya terhadap cara maulid ini. Mestinya peringatan Maulid cukup dilakuakan dengan cara meniru semua sunnah Nabi SAW. Dengan begitu akan terlihat bekasnya usai Maulid. Misalnya makin sering berjama’ah, rajin sadakah dan berbuat baik. Sedangkan perbuatan jelek dikurangi dan dihilangkan. Misalnya yang suka nilep dan korup, agar segera bertobat.
Selain itu, hendaknya makin rajin menuntut ilmu, tak terkecuali melalui moment Maulid. Di sana banyak siraman rohani. Kalau ini dilakukan, maka Maulid bisa meninggalkan bekas positif, yakni bisa jadi orang yang ber-SDM (sumber daya manusia).
Namun karena aspek makan-makan yang diutamakan, bekasnya pun jadi lain. Bekasnya tidak pada perilaku, melainkan pada perubahan bentuk fisik. Misalnya, perut jadi buncit, dan pipi makin tembam karena sering tidur akibat kekenyangan. Tapi janan khawatir. Kalaupun toh, perut Anda makin buncit dan pipi makin tembam, itu juga termasuk SDM. Tapi maaf, bukannya SDM ; sumber daya manusia, melainkan……SIDE DEMEN MANGAN………………SIDE DOANG MOQOH. Wallahua’lam.

Read More......