Selasa, 24 Maret 2009

MAULID BULAN PENUH GIZI

Kalau ada istilah : ramadhan, bulan penuh barakah, kini ada lagi yang baru : maulid, bulan penuh gizi. Kalau bulan ramadhan memang memang dihadirkan penuh keberkahan oleh Allah, tapi bulan mauled memang disengaja oleh sebagian umat Islam untuk dihadirkan penuh gizi.

Kalau ada istilah : ramadhan, bulan penuh barakah, kini ada lagi yang baru : maulid, bulan penuh gizi. Kalau bulan ramadhan memang memang dihadirkan penuh keberkahan oleh Allah, tapi bulan mauled memang disengaja oleh sebagian umat Islam untuk dihadirkan penuh gizi.
Sebelum masuk ke “materi” bulan penuh gizi, tak ada salahnya saya uraikan sedikit mengenai kepercayaan sebagian besar masyarakat kita terhadap baik-buruknya tiap-tiap bulan.
Dalam kepercayaan sebagian umat Islam, ada istilah bulan baik dan kurang baik. Pada bulan-bulan baik, orang ramai-ramai melakukan berbagai cara. Misalnya, padabulan haji (Zulhijjah), dianggap sebagai bulan baik untuk kawin. Makanya pada bulan itu undangan akad nikah pun berdatangan dari sana-sini.
Sementara bulan lainnya seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Syawal dan Dzulqaidah dianggap kurang baik. Makanya jarang orang mau adakan hajatan di bulan-bulan ini, apalagi kawin. Kalaupun ada yang kawin, pasti orang bakal was-was dengan “hari depan” perkawinannya.
Konon kawin di bulan Muharram, bulan panas, akibatnya sering ribut. Bulan Safar, bisa banyak utang. Rabiul Akhir, sering cekcok. Jumadil Awal, bakal rugi melulu. Kawin di bulan puasa, panas juga, bisa sering saling benci. Bulan Syawal, banyak utang. Dzulqoidah, penyakitan. Jadi yang bagus Cuma di bulan Zulhijjah (haji), Sya’ban dan Jumadil Akhir, selebihnya jelek.
Khusus bulan Muharram, oleh sebagian umat Islam primitif dianggap bulan “paling panas”. Kalau kawin di bulan ini bakal sering cekcok. Konon, di bulan ini sering terjadi kecelakaan. Tak heran bila kemudian orang pada berhati-hati naik motor. Yang suka ugal-ugalan di jalan, mendadak menjadi pengendara yang sopan. Bahkan yang jarang memakai helm pun tiba-tiba mengikat helmnya erat-erat. Hampir-hampir pakai sepeda ontel pun mesti berhelm.
Sedangkan untuk bulan mauled sendiri dimasukkan dalam deretan bulan top. Bulan mauled digolongkan sebagai “bulan baik”. Itu sebabnya sederet acara hajatan segera saja dilangsungkan begitu perayaan maulid tiba. Contohnya, sunatan, cukuran anak dan khataman qur’an.
Bagi yang mau sunatan/khitanan, bulan maulidlah yang dirasa paling afdhol. Entah apa pertimbangannya, saya tidak tahu. Padahal, antara khitan di bulan maulid dengan bulan yang lainnya sama saja, tidak berpengaruh pada cepat lambatnya kesembuhan luka bekas khitan. Begitu pula cukuran pertama bagi si bayi, dirasa lebih sreg di bulan Maulid. Makanya banyak orang tua yang bela-belain nunggu sampai Maulid dulu baru cukur rambut bayinya. Padahal Maulid masih 10 bulan lagi. Akibatnya, begitu Maulid tiba, rambut si bayi sudah gondrong.
Yang mau khataman qur’an pun demikian juga. Rasanya kurang pas bila ngadain acara khataman pada bulan safar, Sa’ban atau pun Jumadil Akhir. Cocoknya, ya, di bulan Maulid. Hal ini bisa jadi terkait dengan keramaian di bulan Maulid. Di saat ramainya perayaan Maulid, tentu paling pas untuk melakukan deklarasi telah khatamnya si fulan ngaji qur’an.
Dalam merayakan acara-acara tersebut sudah pasti include dengan makan-makan. Tanpa makan-makan, acara Maulid perlu dipertanyakan keabsahannya. Padahal kalau tanpa zikir, orang tidak pernah mempersalahkannya. Dengan hanya makan-makan walau tanpa zikir, maulid dirasa sah dan sukses. Tapi zikir juga tanpa makan-makan, wah, bisa gawat. Para tamu bisa-bisa menganggap ini sebuah cobaan dari Tuhan” yang perlu disikapi dengan sabar. Ya, bersabarlah, dan setelah itu ; jangan harap mau datang lagi ketempat tersebut.
Begitulah maulid ala Lombok. Aspek makan-makan masih menduduki peringkat pertama. Sedangkan silaturahmi dan siraman rohani menduduki peringkat berikutnya. Karena makan-makan diutamakan, maka usai aulid perutlah yang makin gemuk, bukannya otak. (Kalau perut makin gemuk,otak biasanya makin “kurus”. Sebaliknya kalau otak “gemuk”, perut dan badan biasanya jadi kurus).
Karena Maulid sudah identik dengan makan-makan, maka banyak orang bilang Maulid adalah bulan penuh gizi. Makan di tempat perayaan Maulid bukan sekedar makan biasa, tapi luar biasa. Baik makanan beserta lauk pauknya, buah beserta jajannya, benar-benar spesial. Maka wajarlah orang memamfaatkan moment Maulid tersebut sebagai ajang perbaikan gizi.
Barangkali itu sebabnya pada bulan Maulid banyak aktifitas jadi tak berjalan. Pada pegawai di kantoran sibuk mempersiapkan rencana menghadiri undangan Maulid tiap harinya. Saat ada undangan Maulid, mereka rame-rame ninggalkan kerjaan di kantor demi “makan gratis”. Ini yang dijuluki Romantis (rombongan makan gratis). Anak sekolah pun kadang kerap tak masuk karena menghadapi Maulid, begitu pula gurunya. Bahkan tuan guru pun ada yang menutup pengajiannya selama bulan Maulid. Alasannya, karena banyak undangan Maulid yang mesti dihadiri.
Sungguh mengherankan, kenapa orang begitu getol hadiri acara Maulid, padahal di rumah makanan tersedia juga. Namun bila kita kaitkan dengan peningkatan gizi tersebut barangkali ada benarnya. Bayangkan makanan yang disediakan tuan rumah untuk tamu benar-benar melebihi standar rata-rata orang kebanyakan. Empat sehat, lima sempurna, enam kekenyangan.
Mungkin ini nantinya bisa dijadikan indicator tinggi-rendahnya konsumsi gizi masyarakat kita. Makin getol menghadari makan-makan Maulid, berarti gizi masih rendah. Tapi bila jumlah “romantis” nantinya makin berkurang, maka Dinas Pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan patut bergembira. Sebab ada kemungkinan gizi masyarakat memang sudah meningkat.
Yang lebih lucu lagi adalah prilaku masyarakat dalam hal pemberian makanan bergizi ini. Meski sehar-hari hidup kekurangan, tapi saat Maulid mendadak berada. Tamu betul-betul dibkin puas dan kenyang dengan makanan lezat. Dulang Maulid bisa berisi 50-an piringjajan beraneka rupa dan bentuk, dari yang bulat, lonjong, bulat lonjong, persegi panjang, segitiga samakaki, jajaran genjang, kubus, kerucut hingga bentuknya tak ditemukan namanya dalam buku matematika. Yang jelas, begitulah royalnya masyarakat kita kepada tamu.
Seorang khatib jum’at pernah mengungkapkan keprihatinannya terhadap cara maulid ini. Mestinya peringatan Maulid cukup dilakuakan dengan cara meniru semua sunnah Nabi SAW. Dengan begitu akan terlihat bekasnya usai Maulid. Misalnya makin sering berjama’ah, rajin sadakah dan berbuat baik. Sedangkan perbuatan jelek dikurangi dan dihilangkan. Misalnya yang suka nilep dan korup, agar segera bertobat.
Selain itu, hendaknya makin rajin menuntut ilmu, tak terkecuali melalui moment Maulid. Di sana banyak siraman rohani. Kalau ini dilakukan, maka Maulid bisa meninggalkan bekas positif, yakni bisa jadi orang yang ber-SDM (sumber daya manusia).
Namun karena aspek makan-makan yang diutamakan, bekasnya pun jadi lain. Bekasnya tidak pada perilaku, melainkan pada perubahan bentuk fisik. Misalnya, perut jadi buncit, dan pipi makin tembam karena sering tidur akibat kekenyangan. Tapi janan khawatir. Kalaupun toh, perut Anda makin buncit dan pipi makin tembam, itu juga termasuk SDM. Tapi maaf, bukannya SDM ; sumber daya manusia, melainkan……SIDE DEMEN MANGAN………………SIDE DOANG MOQOH. Wallahua’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar