Jangan salah sangka ! Rangkaian judul di atas bukan merupakan motto daerah manapun. Rangkaian kata tersebut bukan pula untuk menyaingi motto Lombok Barat; Patut Patuh Patju. Maulud-Mulud-Melud adalah suatu rangkaian kata di mana antara kata pertama dengan selanjutnya punya hubungan sebab akibat. Ingin tahu lebih jelas? Baca saja ulasan selanjutnya.
Jangan salah sangka ! Rangkaian judul di atas bukan merupakan motto daerah manapun. Rangkaian kata tersebut bukan pula untuk menyaingi motto Lombok Barat; Patut Patuh Patju. Maulud-Mulud-Melud adalah suatu rangkaian kata di mana antara kata pertama dengan selanjutnya punya hubungan sebab akibat. Ingin tahu lebih jelas? Baca saja ulasan selanjutnya.
Sebagian orang banyak yang menyebut maulid dengan ucapan maulud. Dan dalam tulisan ini saya lebih sreg menggunakan kata Maulud saja. Bukan apa-apa, tapi semata-mata agar judul di atas jadi punya nilai estetika.
Maulud artinya kelahiran. Maulud Nabi berarti kelahiran Nabi. Sedangkan “Mulud” adalah bahasa Sasak dari Maulud. Jadi, kalau ada orang yang berkata akan pergi Mulud, berarti ia akan pergi menghadiri kondangan maulud. Oleh sebagian orang, “Mulud” kemudian diplesetkan menjadi “Mulut”. Kedua kata tersebut kalau diucapkan kedengarannya hampir sama. Diplesetkannya kata “Mulud” menjadi “Mulut” adalah dikarenakan sebab tertentu.
Saat ini bukan rahasia lagi bahwa terdapat korelasi antara “Mulud” dengan “Mulut”. Kalau sudah mendengar kata Mulud, maka biasanya yang pertama terbersit dalam benak kita adalah makanan. Memang, dewasa ini “Mulud” identik dengan makan-makan. Walau mungkin ada juga unsur silaturrahmi dan siraman rohaninya, tapi itu tidak banyak. Sebagian besar orang pergi “Mulud” hanya untuk makan-makan. Demikian pula dengan para pengundang Mulud, begitu tamu datang, yang langsung dikeluarkan adalah makanan. Si tamu makan, setelah itu basa-basi sedikit, lalu pergi. Istilah teman saya, setelah makan-pergi (SMP). Atau kalau di-Sasakkan menjadi SOHDI, Besoh-Nyedi.
Pendeknya. Mulud akhirnya benar-benar “sah” diidentikkan dengan makan-makan. Dan tentu saja kalau dalam hal makan-makan, yang paling pertama merasakan nikmatnya makanan adalah mulut. Itu sebabnya Mulud sering diplesetkan menjadi Mulut.
Lalu bagaimana dengan Melud ?
Di sebagian tempat Melud bisa berarti ‘agak kurang waras’. Tapi di tempat saya Melud berarti malas, ogah dan sebangsanya. Oleh karenanya mohon maaf bila kata Melud saya tafsirkan menurut bahasa di tempat saya.
Diletakkannya kata “Melud” di akhir rangkaian “Motto” Maulud-Mulud-Melud punya makna tersendiri. Sebagaimana dimaklumi, “Bulan Mulud” berlangsung selama sebulan. Tiap hari pasti ada saja kampung yang Mulud. Dan dalam satu hari, undangan kadang di sana-sini, yang tentunya makan pun di sana-sini juga. Akibatnya perut jadi kekenyangan. Kalau sudah kekenyangan, yakinlah, kantuk ‘kan datang, malas menjelang dan semangat ‘kan hilang. Nah, ini yang dinamakan “Melud”. Jadi, klop-lah sudah “Maulud-Mulud-Melud”.
Sebenarnya, dalam Islam tidak ada anjuran untuk adakan Mulud. Nabi sendiri tidak pernah merayakan HUT-nya itu. Begitu pula para sahabat Nabi lainnya. Maulud dimulai pada jaman Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Kala itu beliau mengadakan Maulud dengan maksud untuk meningkatkan moral dan semangat pasukan Islam. Pasukan Islam pada waktu itu sedang menghadapi gempuran pasukan Kristen dalam Perang Salib.
Maulud yang dilaksanakan Sultan dan pasukannya saat itu tidak dengan cara memperbanyak makan-makan. Mereka merayakan maulud dengan cara banyak membaca shalawat nabi dan menjalankan sunnah Nabi lainnya. Dan akhirnya kemenangan pun tercapai.
Coba bandingkan dengan maulud kita sekarang. Hanya beberapa persen saja yang maulud mengikuti cara Sultan Al-Ayyubi tersebut. Selebihnya, kita lebih menitikberatkan pada aspek makan-makannya. Dan konsekwensi dari maulud yang menitikberatkan pada aspek makan-makan itu, maka badan jadi berat, otak jadi berat dan kelopak mata pun jadi berat juga. Tapi untung saja kita tidak sedang perang. Kalau saja dalam kondisi perang, nampaknya musuh takkan sulit membantai kita. Ya, karena saat musuh menyerang, kita lagi terkantuk-kantuk kekenyangan sehabis “Mulud”.
Saat ini banyak orang yang sudah menyadari akan “kekurangtepatan” cara pelaksanaan Mulud tersebut. Namun karena tradisi ini sudah mendarahdaging, akhirnya orang merasa terpaksa untuk menjalankannya. Malah di sebagian tempat bila seseorang tidak melaksanakan mulud, bisa dianggap aib. Bisa-bisa namanya bakal digunjing sana-sini.
Sebenarnya, tidak ada paksaan dalam melaksanakan Maulud. Kalau tidak dilaksanakan, tidak berdosa. Kalau pun toh, dilaksakan, belum tentu dapat pahala. Untuk itu bagi yang ekonominya pas-pasan atau keuangan keluarga rada-rada mengkhawatirkan, sebaiknya tidak usah Mulud. Cukup baca shalawat ekstra banyak di bulan itu, dan jalankan semua sunnah Nabi, itulah Mulud yang sebenarnya. Sedangkan uang yang ada, pemakaiannya diprioritaskan untuk hal-hal yang lebih penting, terutama untuk sekolah anak.
“Maunya sih, begitu. Tapi ‘kan tidak enak sama keluarga di kampung sebelah. Lha, kemarin mereka ‘mulud’ ngundang kita, sekarang kampung kita ‘mulud’ tidak ngundang mereka, ‘kan malu,” ujar seorang teman kepada saya dengan nada polos.
Ternyata salah satu masalahnya terletak di situ, yakni faktor saling undang-mengundang karib kerabat antar kampung. Jaga gengsi. Karena faktor jaga gengsi itu pula seseorang sering memaksakan diri untuk Mulud di rumahnya, meski dengan cara hutang sana-sini.
Kalau itu masalahnya, solusinya gampang ! Adakan Mulud serentak. Semua desa di-Mulud-kan pada hari dan tanggal yang sama. Praktis, tak ada lagi yang akan mereka undang, karena karib kerabatnya di kampung sebelah juga sedang Mulud. Karena kekurangan tamu, biasanya akhirnya mereka kumpulkan diri di mesjid, bikin acara. Ini tentu lebih bermanfaat daripada terima tamu sendiri-sendiri di rumah tanpa ada acara ritualnya.
Mulud model begini memang sekali-dua kali terasa tidak enak, karena Mulud jadi sepi, tidak seperti biasanya. Tapi lama kelamaan ‘kan biasa juga, sehingga tentunya biaya Mulud bisa ditekan. Dalam hal ini tentu butuh peran dari para kaum terpelajar, orang berpengaruh dan “penguasa sipil” untuk mengajak masyarakat agar mensederhanakan cara Mulud yang jor-joran. Apalagi saat ini kita lagi krisis ekonomi “abadi nan jaya”. Semoga di masa depan angan-angan ini bisa jadi kenyataan.
Dan karena saat ini cara perayaan “Mulud” masih seperti sediakala, maka dengan membaca Bismillaahirrohmaanirrohiim, saya ucapkan selamat : Maulud – Mulud – Melud. Wallahua’lam.
Selasa, 24 Maret 2009
MAULUD-MULUD-MELUD
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar