Salah satu versi sejarah mengatakan, bahwa perayaan Maulid dimulai pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dari dinasti Mamalik. Dirayakannya Maulid pada saat itu untuk membangkitkan moral dan semangat pasukan Islam menghadapai gemburan tentara Kristen dalam perang Salib.
Pada jaman Tabi'in, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dari dinasti Mamalik, terjadilah perang besar antara Umat Islam dan Kristen. Umat Islam menyebutnya sebagai Perang Sabil, sedangkan Umat Kristen menyebutnya dengan perang Salib. Perang Sabil/Salib ini berlangung beberapa kali, dengan kemenangan silih berganti dari kedua belah pihak.
Dikisahkan, bahwa dalam salah satu babak peperangan, tentara Salib (Kristen) minta agar diadakan genjatan senjata. Alasannya, mereka akan merayakan hari kelahiran nabinya (Nabi Isa) yang dikenal dengan perayaan Natal. Permintaan ini dikabulkan oleh tentara Islam yang dipimpim oleh Salahuddin Al-Ayyubi. Maka sejak kesepakatan genjatan senjata itu, pihak Kristenpun merayakan Natal dengan tenang dan khidmat tanpa gangguan sedikitpun.
Usai merayakan Natal, peperanganpun dilanjutkan kembali. Kali ini malah lebih seru. Tentara Islam saat itu agak heran melihat betapa berkobar-kobarnya semangat perang Tentara Kristen. Tak pernah mereka lihat semangat tentara Salib se-berkobar itu sebelumya. Selidik punya selidik, ternyata menyala-nyalanya semangat tentara Salib tersebut disebabkan oleh karena mereka telah memperingati hari kelahiran nabinya (Natal).
Untuk menandingi hal itu, Sultan Salahuddin Al-Ayyubipun tak mau kalah. Dicarinya akal bagaimana cara agar semangat Tentara Islam bisa berkobar pula. Ia berfikir, jika Tentara Kristen dapat berkobar semangatnya karena telah merayakan hari kelahiran nabinya, maka semangat Tentara Islampun harus dikobarkan pula dengan cara yang sama. Caranya tentu dengan memperingati hari kelahiran nabinya, Nabi Muhammad SAW. Maka sejak saat itulah dirayakan peringatan Hari Kelahiran nabi Muhammad SAW yang kini kita kenal dengan MAULID.
Kisah tersebut adalah salah satu versi sejarah tentang asal muasal peringatan Maulid Nabi SAW. Versi lain mengatakan, bahwa peringatan Maulid Nabi SAW juga dimulai pada jaman Salahuddin Al-Ayyubi, namun bukan karena hal ikhwal perang salib. Maulid dilakukan karena saat itu Sultan Salahuddin melihat bahwa sebagian besar Umat Islam telah mulai pudar ke-islamannya karena tidak lagi berpegang teguh pada ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW. Yang menjadi pegangan sebagian besar Umat Islam ialah paham-paham, atau berbagai macam 'isme-isme' yang justru jauh melenceng dari Al-qur'an dan Sunnah Nabi. Oleh karena itulah maka Salahuddin Al-Ayyubi mulai mengadakan peringatan Maulid Nabi SAW dengan tujuan agar Umat Islam kembali berpegang teguh pada ajaran-ajaran Muhammad SAW.
Versi manapun yang benar dari kedua cerita tersebut, yang jelas, awal mula adanya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah pada jaman Tabi'in, bukan pada jaman Khulafaurrasyidin dan bukan pula pada jaman Nabi SAW masih hidup. Atau dengan kata lain bahwa perayaan maulid tidak disunnahkan apalagi diwajibkan. Kalaupun ada sebagian ulama menunjukkan tentang adanya hadist anjuran untuk merayakan maulid ini, namun sebagaian ulama pula mengatakan bahwa hadist tersebut sifatnya mawdu (hadist buatan).
Sejarah tentang asal muasal perayaan maulid ini perlu diketengahkan untuk meluruskan pemahaman sebagian Umat Islam Indonesia tentang perayaan Maulid. Sebab masih banyak Umat Islam yang menganggap bahwa merayakan maulid adalah wajib atau setidak-tidaknya sunnat. Akibatnya mereka tak segan-segan mengeluarkan harta bendanya untuk merayakan maulid dengan semeriah-meriahnya. Bahkan bisa dikatakan maulid kini telah menjadi semacam gengsi sosial.
Cara peringatan maulid yang kita lihat di 'tanah air' memang jauh berbeda dengan cara peringatan maulid di 'tanah pasir' (Timur Tengah). Di Timur Tengah, perayaan Maulid dilaksanakan dengan cara melakukan diskusi agama, pengajian akbar, banyak membaca shalawat, zikir dan berbagai kegiatan Islami lainnya.
Demikian pula dengan para sahabat Nabi SAW dahulunya. Meskipun mereka tidak pernah merayakan maulid nabi secara seremonial setahun sekali, tapi pada hakekatnya mereka telah melaksanakan maulid yang sebenarnya. Cara mereka maulid yaitu dengan menjalankan sunnah-sunnah Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Cara ini jauh lebih baik dari pada cara seperti sekarang, di mana setiap tahun kita merayakan maulid secara besar-besaran namun dalam kesehariannya kita jarang mengikuti cara-cara nabi.
Maulid di Pulau Lombok
Di Pulau Lombok, bila Bulan Maulid tiba, maka mulailah masyarakat dari berbagai tingkat ekonomi mempersiapkan segala sesuatunya. Terutama sekali persiapan biaya untuk membeli makanan dan minuman, karena memang 'inti' perayaan maulid di Pulau Lombok adalah makan-makan. Karena hal itulah maka pada akhirnya Maulid-pun identik dengan makan-makan. Biaya yang dikeluarkan masyarakat umumnya relatif cukup besar bila dilihat dari kondisi ekonominya sehari-hari. Namun demikian, biaya yang cukup besar tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka, meskipun harus mereka cari dengan cara hutang-sana sini.
Tak jarang, selain harus mempersiapkan biaya untuk menjamu para tamu pribadinya, masyarakat dengan terpaksa (kadang dengan kesadaran sendiri) 'membebankan diri' dengan berbagai biaya untuk mengadakan berbagai bentuk hiburan di tempatnya. Umumnya hiburan yang biasa ditanggap ialah hiburan wayang, dangdut, kecimol dan sebagainya. Hiburan-hiburan semacam ini selain mubazir, juga mudharatnya lebih banyak dari pada manfaatnya. Biasanya, pada event hiburan tersebut terjadi bermacam bentuk maksiat seperti perzinahan, mabuk-mabukan dan perkelahian. Cara-cara ini jelas-jelas sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam dan tujuan perayaan maulid yang sebenarnya. Padahal salah satu peristiwa besar yang dirayakan dalam peringatan maulid adalah Hari Wafatnya Rasulullah. Hari Duka Cita Umat Islam.
Ironis memang. Tapi herannya, para tuan guru jarang sekali mengungkap masalah 'kesalahan' cara maulid ini, sehingga kesalahan inipun terus terjadi dan malah makin lestari. Ada yang menduga, para tuan guru enggan mengkritik cara tersebut karena khawatir tak diundang maulid lagi, karena memang even maulid tersebut adalah 'lahan' bagi mereka.
Dan satu hal yang paling kita sayangkan yaitu keberanian masyarakat untuk mengorbankan hartanya justru pada hal-hal yang tidak diwajibkan agama seperti maulid ini. Sementara dalam hal keberanian berkorban harta untuk kepentingan pendidikan, seperti menyekolahkan anak, ataupun membantu membangun sarana pendidikan, sangatlah kecil. Jadi, tak mengherankan jika akhirnya SDM masyarakat kita di Pulau Seribu Masjid ini jauh tertinggal dari daerah-daerah lainnya. Andaikata keberanian masyarakat Lombok berkorban harta untuk maulid sama dengan keberanian berkorban harta dalam menuntut ilmu, barangkali peringkat SDM kita tak akan menyedihkan. Kita tak akan menjadi nomor 'BENGKIS' seperti saat ini. Wallahua'lam
Selasa, 24 Maret 2009
MAULID, DULU DAN SEKARANG
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Maulid bukankah peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW? Kok peringatan wafatnya, yang benar mana sih.
BalasHapus